Javanese Media Online of Aceh

Orang Rasis Vs Orang Amanah

Oleh BenerPOST tanggal Selasa, 24 November 2015 | 00.58

Sebenarnya tidak ada satu manusiapun yang ingin dibeda-bedakan hak dan atau kewajibanya dengan alasan karena memiliki ras yang berbeda bukan dilihat dari kemampuan, dan ada beberapa menutup kesempatan pengembangan potensi diri orang lain, sedangkan orang dengan ras atau suku yang sama ia bimbing untuk masuk dalam lingkaran bersama walau dengan susah payah, dan banyak perlakuan-perlakuan yang masuk kategori rasis bahkan beberapa sampai bertindak ekstrem.
Jika kita berpikir mumpung jadi mayoritas dengan menyisihkan minoritas maka tindakan itu justru membangkitkan perjuangan si minoritas untuk mendapatkan pengakuan, saat kita melakukan tindakan rasis maka korban juga akan mencari teman satu ras untuk bertahan, salah jika kita berpikir si minoritas menjadi takut dan lalu ikut si mayoritas, dan justru ras-ras yang dinyatakan tidak eksis lagi itu karena diterima dengan baik oleh si mayoritas, sehingga ada rasa nyaman dan tentram untuk bergabung dengan mayoritas umumnya.
Hendaknya si minoritas juga sadar bahwa sudah sewajarnya si mayoritas memiliki kesempatan lebih banyak agar tidak merasa dikucilkan atau diperlakukan tidak adil, misalnya ada ras A mengikuti uji tes kemampuan sebanyak 100 orang sedangkan ras B sebanyak 10 orang, bukankah sangat wajar jika ras A memiliki kesempatan kelulusan lebih banyak, tentu dengan catatan bahwa uji dilaksakan dengan adil, dan bisa saja si minoritas lulus 100% sedangkan si mayoritas hanya 10% dan kembali bahwa uji dilakukan secara adil, bukankah adil itu menyenangkan semua orang, dan menjamin kesempatan yang sama bagi setiap orang.
Secara alamiah sebenarnya orang rasis itu sangat benci kepada orang rasis lainnya yang berbeda ras, itu dikarenakan ada dikotomi siapa dia siapa saya, dan memandang ras lain adalah sebagai momok yang membahayakan bahkan ada ras yang masih primitif tidak memberi kesempatan hidup jika ada orang asing yang masuk daerah "kekuasaannya", padahal peradaban dunia terbentuk dari hubungan antar ras dan saling mengenal, juga bertukar pengalaman cara hidup dari masing-masing ras, sehingga tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan oleh ras tertentu.
Berbeda dengan orang amanah, saat dia dilahirkan dari rahim ras tertentu ia merasa berkewajiban untuk menjaga eksistensi rasnya namun ia juga sadar bahwa ras lain juga sedang menjaga amanah itu, bahwa kesalahan dari satu orang ras tertentu bukanlah sample akurat untuk mengeneralisir suatu kaum, karena setiap orang adalah unik bahkan jika ia kembar identik, jadi bagi orang yang amanah tidak ada dikotomi mayoritas dan minoritas, siapa dia dan siapa saya, apalagi sampai membedakan hak dan kewajiban dikarenakan ras, bagi orang amanah, sikap itu tidak adil karena kita dilahirkan tidak ada kesempatan memilih menjadi ras apapun dan dia sendiri tidak mau diperlakukan tidak adil juga karena amanah yang dia emban, namun dia tetap menjadi dirinya sendiri tanpa memaksakan orang lain untuk menjadi dirinya, karena itulah keadilan.