Javanese Media Online of Aceh

Simeurante, Perintis Perkebunan Kopi Dan Pelaku Sejarah di Aceh (1904-2015)

Oleh BenerPOST tanggal Selasa, 19 Mei 2015 | 03.38

Simeurante, perintis perkebunan kopi sekitar tahun 1904 masehi
Selain memiliki sejarah kebersamaan perang syahid bersama Ureung Aceh di Malaka, Wong Jawa juga memiliki sejarah kelam pada masa penjajahan, dimana dipaksa sebagai pekerja buruh pada perkebunan-perkebunan yang didirikan oleh belanda. mereka didatangkan melalui kapal laut langsung dari pulau jawa, juga ada yang melalui darat dari perkebunan-perkebunan di sumatera utara yang lebih dahulu didirikan oleh belanda, pada umumnya pekerja paksa yang dibawa dengan cara dirantai adalah suku jawa muslim, karena pihak belanda tidak percaya terhadap suku jawa yang muslim untuk dijadikan pasukan pribumi (KNIL).
Bangsal tempat tinggal pekerja kebun zaman penjajahan belanda

Rumah bangsal tempat tinggal pekerja kebun zaman penjajahan belanda



Sisa bangunan pengolah hasil panen kopi di perkebunan belanda
selain sebagai pekerja kebun, leluhur jawa di aceh juga dijadikan sebagai pekerja paksa pada zaman penjajahan belanda dan jepang dalam pembangunan insfrastruktur seperti jalan, jembatan, pabrik, benteng, dan gedung-gedung milik belanda. bagi orang jawa di aceh sejarah yang kelam ini tidak ada pilihan karena kekuasaan kesultanan yang seharusnya melindunginya telah dilumpuhkan terlebih dahulu oleh belanda, sangat beruntung ureung aceh yang masih memiliki bangsawan pejuang walaupun secara defacto berakhir tahun 1904 setidaknya tidak semenderita berkepanjangan sampai hari kemerdekaan 1945 dibanding orang jawa.

orang jawa bukan sama sekali tidak melawan, baik yang ada di tanah jawa maupun yang dibawa belanda keluar pulau, perlawanan-perlawanan yang dapat dilakukan sangat kecil, namun tetap dilakukan bahkan saat orang jawa di rantai dan kabur dari perkebunan dan kerja paksa yang kemudian membentuk kesatuan gerilya walaupun dalam sekala kecil, karena tidak adanya persenjataan, akhirnya kesadaran kita sebangsa dan setanah airlah yang membawa kita menjadi bangsa merdeka.