Javanese Media Online of Aceh

Kupiah Meukutop dan Kuluk Kanigara - Nostalgia Bangsa Serumpun

Oleh BenerPOST tanggal Selasa, 19 Mei 2015 | 02.44

secara tidak sengaja dalam tafakur saya terbesit dua mahkota penutup kepala khas yang dimiliki oleh suku bangsa di nusantara yaitu Suku Aceh dan Suku Jawa, seperti dalam judul tulisan ini yaitu Kupiah Meukutop dan Kuluk Kanigara.

Kupiah Meukutop merupakan mahkota untuk pria sebagai kelengkapan pakaian kebesaran rakyat aceh, yang terbuat dari anyaman bambu atau rotan yang diberi pewarna khas sebagai hiasan, selain itu berbeda dengan yang dikenakan oleh pahlawan-pahlawan aceh dahulu seperti teuku umar atau panglima polem saat ini pemakaian Kupiah Meukutop juga memakai kain songket yang melingkari pangkal kupiah sehingga terlihat semangkin indah dan berwibawa.
  
Sulthan Mahmud Syah dan Panglima Polem


Kupiah Meukutop tanpa hiasan atas

Kupiah Meukutop dengan hiasan atas

Kupiah Meukutop dengan hiasan atas dan kain songket

SBY Menggunakan Kupiah Meukutop
sedangkan Kuluk Kanigara sama halnya dengan Kupiah Meukutop bagi Ureung Aceh merupakan mahkota yang dipakai pria sebagai kelengkapan pakaian kebesaran adat bagi Wong Jawa, namun ada aturan dalam penggunaan mahkota ini yaitu hanya boleh dipakai oleh Raja, Perwira dan Raja Sehari (Pengantin) sedangkan untuk pemakaian sehari-hari masyarakat umum mengenakan mahkota yang disebut blangkon atau iket, sedangkan untuk prajurit menggunakan topi sesuai dengan kesatuannya masing-masing.
Hamengku Bhawana X

Raja Sehari (Pengantin) adat Jawa

Kuluk Kanigara dibungkus dengan kain beludru dan hiasan garis warna emas

Kuluk Kanigara yang dikenakan oleh raja saat acara penobatan sebagai raja, terbuat dari emas berkombinasi dengan batu mulia serta kain beludru.
Kuluk Kanigara dibuat dengan bahan anyaman rotan atau bambu yang dibungkus kain beludru serta dihias oleh garis-garis warna emas, untuk mahkota kebesaran raja yang dipakai pada acara penobatan raja atau putra mahkota biasanya bahan terbuat dari emas berhias kain beludru, ukiran dan batu mulia.

ada keunikan cara pemakaian Kuluk Kanigara bagi Wong Jawa yang berdomisili di Aceh yaitu pemakaian Kuluk Kanigara hampir mirip dengan cara memakai Kupiah Meukutop Ureung Aceh saat ini yang menggunakan kain songket, namun bedanya Kuluk Kanigara menggunakan kain batik yang melingkari pangkal mahkota.

serupa tapi tak sama, menurut penulis ini ada kaitannya kedekatan antara Kesultanan Aceh Darussalam dan Kesultanan Mataram dengan Turki Ustmani, sedangkan iket jawa muncul karena zaman majapahit mahkota terbuat dari emas, sehingga membutuhkan landasan kain sekaligus pengikat emas agar tidak terlepas dari kepala, saat ini iket juga masih dipakai oleh petani sebagai landasan caping (topi petani) yang notabene terbuat dari anyaman bambu atau rotan sehingga menggunakan iket bahan bambu dan rotan tidak melukai kepala si pemakai.

caping jawa secara garis besar ada dua jenis yaitu caping gunung (berbentuk kerucut) untuk petani karena bekerja di tanah yang lapang sedangkan caping gilig (berbentuk tabung mirip kuluk kanigara namun anyaman tidak dibungkus kain bludru) yang dipakai pekebun karena bentuknya yang ramping sehingga tidak menyulitkan bergerak dibawah pohon. sedangkan blangkon adalah bentuk instan dari iket secara garis besar juga dibagi dua yaitu blangkon yogya yang memiliki jendolan dibelakang kepala karena dahulu rambut panjang-panjang dan digulung dibelakang kepala, satu lagi balngkon surakarta yang telah menghilangkan jendolan (gulungan rambut buatan).