Javanese Media Online of Aceh

Brendal : Puncak Kemarahan Simurante

Oleh BenerPOST tanggal Selasa, 19 Mei 2015 | 03.57

Kata “berandal adalah berasal dari bahasa belanda ‘bran’ (bakar), jadi berandal ialah gelar yang umumnya diberikan Belanda kepada kaum pejuang kemerdekaan yang suka melawan dan membakar tangsi-tangsi belanda pada waktu itu bahkan kini nama brandal yang dilafalkan brendal tersebut menjadi nama salah satu daerah di dataran tinggi gayo.
Dahulu ‘berandal’ adalah musuh besar kaum penjajah, kisah ini berawal sejak bercokolnya belanda di dataran tinggi gayo yang juga mendatangkan pekerja kebun, pembuat jembatan, jalan dan gedung dari pulau jawa, namun perlakuan tidak manusiawi kaum penjajah menjadi pemicu perlawanan kaum pekerja tersebut, sehingga cukup banyak yang berhasil lari kehutan dan menyusun strategi perlawanan, persenjataan tentu tidak ada karena mereka adalah pendatang yang dibawa belanda dengan tangan dan kaki di rantai, kecuali orang-orang jawa yang terlebih dulu datang sebelum pendudukan belanda untuk ikut bergabung, mereka banyak memiliki senjata seperti pedang sabet dan keris warisan yang sampai sekarang masih disimpan oleh anak cucu pewarisnya, sehingga senjata satu-satunya yang paling bisa diandalkan adalah api yang dapat dibuat dengan bahan yang murah. 
Tujuanya adalah untuk menyerang konvoi, tangsi militer, perkebunan milik belanda, dan menimbulkan kerugian besar kepada kaum belanda, sehingga sebisa mungkin membebaskan teman sekapal saat berangkat dari pulau jawa dan teman senasib sebanyak mungkin. 
Satu kejadian unik para pejuang bahwa mereka tidak pernah menggunakan nama aslinya saat berjuang, namun menggunakan nama samaran yaitu selalu menggunakan kata Singa (Singo) dan diikuti kata sifat seperti Singo Dimejo, Singo Wiryo, Singo Prawiro, Singo Winoto, Singo Wilogo, Singo Purwo, Singo Wijoyo, Singo Amuk, Singo Waskito, Singo Soemitro, Singo Broto, Singo Barong, Singo Warsito, Singo Rekso, dan lain-lain. Hal ini bertujuan agar membingungkan pihak belanda supaya teman, saudara yang masih dalam perkebunan tidak menjadi korban, kata singa juga bertujuan mengobarkan semangat juang, agar segarang singa si raja rimba. Setelah kemerdekaan mereka kembali menggunakan nama kelahiran, hanya teman-teman seperjuangan dan anak cucunya yang dicerikan kisahnyalah yang biasanya tahu nama alias tersebut.