Javanese Media Online of Aceh

Sejarah dan Filosofi Busana Adat Jawa di Aceh

Oleh BenerPOST tanggal Jumat, 13 Maret 2015 | 11.28

busana adat merupakan kekayaan khasanah budaya yang menjadi kebanggaan nusantara, semua komunitas adat memiliki busana kebesaran adat, selain menampilkan kemegahan peradaban suatu budaya, dibaliknya juga menyimpan sejarah dan filosofi terciptanya busana suatu komunitas adat, karena bagi rakyat nusantara sebuah identitas itu sangat penting dalam sebuah komunitas, merupakan bentuk fisik jati diri sebagai protek dan pengenal diri, pengenalan diri ini penting saat seseorang sadar siapa dirinya maka secara psikologi akan mensugesti prilaku dan perbuatannya di tengah masyarakat, sehingga dengan adanya identitas bersama yang dibangun bersama akan membentuk norma adat sebagai hukum tidak tertulis, norma inilah yang membentuk kepribadian seseorang yang telah mengenal siapa dirinya atau orang yang mengenal jati dirinya.  berbicara busana adat jawa di aceh ragamnya hampir sama dengan busana jawa di pulau jawa hanya saja memiliki gagrag (style) kekhasan tersendiri, hal itu dipengaruhi oleh perjalanan sejarah orang jawa itu sendiri di aceh. orang jawa di aceh mayoritas terbentuk dari sisa-sisa pasukan Kerajaan Demak yang dipimpin Pati Unus saat bekerjasama dengan kerajaan Aceh menyerang bangsa Portugis di Malaka, sehingga masyarakatnya terbentuk dari beragam dialek dari pulau jawa bagian barat sampai dengan pulau jawa bagian timur yang bercampur aduk menjadi satu kominitas, hal ini juga yang menyebabkan dialek bahasa jawa di aceh dan busananya memiliki kekhasan tersendiri, walaupun saat ini coraknya lebih pada kebudayaan mataram karena telah beralihnya Kerajaan Demak ke Karajaan Pajang ke Kesultanan Mataram (kini Kesunanan Surakartha dan Kesulthanan Yogyakartha), sehingga mempengaruhi juga keturunannya yang ada di aceh.  busana adat jawa di aceh bisa dikatakan kumpulan koleksi busana jawa dari ujung barat sampai ujung timur pulau jawa terutama muncul saat pertunjukan kesenian wayang kulit, wayang orang (kini sudah sulit ditemukan), ketoprak, reog ponorogo, kuda kepang (juga ada yang menyebut jathilan, jaran kepang atau kuda lumping), dolalak (bisa dibilang sudah tidak ada lagi) dan busana pengantin, ragam busana tersebut di antaranya atela, surjan, beskap, dodotan, kebaya, dan lainnya.  letak kekhasan busana adat jawa aceh ada pada makuta pada pria dan sanggul pada wanita, pada pria terpengaruh oleh perjalanan sejarah perang syahid melawan portugis di malaka yaitu penggunaan semacam peci yang diikat sedemikian rupa dengan kain sarung batik untuk pemakaian sehari-hari dan diikat sedemikian rupa dengan kain jarik (kain panjang dari batik) untuk pemakaian saat perang. untuk pemimpin dan juga dipakai saat pengantin pria pemakaian peci diganti dengan kuluk kanigara (mirip kopiah meukutop di aceh) dan aturan penggunaan kain batik persis sama saat penggunaan peci. untuk wanita menggunakan sanggul persis sama dengan wanita di jawa hanya saja sanggul itu dibungkus kain khusus dari leher hingga atas kepala sehingga menyerupai jilbab, baru hiasan pernak-pernik khas termasuk hiasan dahi di pasangkan dan ditambahkan kain selendang untuk menambah keanggunan.  khusus untuk makuta pada pria memiliki filosofi yaitu letak bundelan (ikatan) udeng (penutup kepala yang terbuat dari batik) letaknya di depan, ini bermakna segala permasalahan diselaikan didepan (dahulu), sampai mencapai ikatan atau kesepakatan (agreement) agar masalah tidak berlarut-larut dan berkepanjangan dan menciptakan masalah yang lebih besar. ikatan di depan juga bermakna bahwa ikatan adalah bagian yang terkuat dari sesuatu yang di ikat, ini bermakna proteksi siap menjaga sesuatu yang menjadi komitmen bersama. sehingga berharap menjadi manusia yang taat hukum bernegara, taat agama dan taat norma yang berlaku adalah bentuk konsekwensi sebuah kesepakatan (agreemen).  keunikan lain adalah pemakaian udeng (ikat kepala pada makuta pria) yang terbuat dari kain sarung batik untuk pemakaian sehari-hari itu dikarenakan dahulu kain tersebut digunakan untuk sajadah atau sarung saat sholat, sedangkan pemakaian udeng yang terbuat dari kain jarik (kain batik panjang) disaat perang karena selain digunakan untuk sajadah juga digunakan untuk pelindung saat istirahat siaga di hutan juga sebagai penutup saat mati syahid.  ternyata busana menyimpan begitu banyak cerita sejarah dan filosofi hidup, semoga tulisan ini dapat menambah wawasan kita, begitu kayanya bumi nusantara dan indahnya saling mengenal dan menghargai. [AA]