Javanese Media Online of Aceh

Tunggal Sabahita dan Pujakesuma

Oleh BenerPOST tanggal Kamis, 25 Desember 2014 | 00.49

Replika Bahita (Kapal Laut) di Candi Borobudur
Pujakesuma adalah singkatan dari Putra Jawa Kelahiran Sumatra setidaknya Suku Jawa sudah ada di Pulau Sumatra setidaknya sejak tahun 1880 Tahun Masehi atau 1809 Tahun Jawa, yang secara defacto diperingati setiap 1 Rejeb setiap tahunnya. kedatangan Suku Jawa di sumatra bukan berarti baru ada tahun tersebut, bahkan kerja sama antar kesultanan di nusantara pula telah ikut membawa tersebarnya suku jawa bukan hanya di sumatra bahkan di madagaskar dan semenanjung malaya, kemaharajaan sriwijaya dan majapahit juga ikut berperan dalam persebaran suku jawa.

kali ini saya akan menceritakan filosofi motto suku jawa "Tunggal Sabahita (baca: Tunggal Sebahito)" atau dalam bahasa ngoko disebut "Tunggal Sa Kapal" yang sangat melekat bagi suku jawa yang ada diluar pulau jawa (perantauan) terutama di sumatra, dalam bahasa indonesia artinya "Satu Kapal" atau "Kebersamaan dalam satu kapal". bangsa nusantara memang tidak asing dengan dunia maritim, sehingga memang sebagai pelayar ulung, sehingga makna "bahita" bagi suku jawa juga berarti hidup dan mati bersama, karena etika bagi pelayar yang dipegang erat oleh suku jawa adalah apapun permasalahan pribadi di atas "bahita" atau kapal laut harus diselesaikan di daratan, jadi kebaikan dan kebersamaan di atas laut juga akan terbawa pula ke daratan.

istilah Tunggal Sabahita itu kembali populer dikalangan suku jawa sejak adanya kerja paksa diluar pulau jawa, sehingga mereka mau tidak mau menjadi pekerja paksa dan dipindahkan secara besar-besaran keluar pulau jawa melalui jalur laut, sehingga rasa penderitaan senasib dan sepenanggungan serta kebersamaan di atas kapal terbawa sampai ke tujuan, sehingga muncul istilah "Dulur Sabahita" atau "Dulur Sa Kapal" yang artinya Saudara Satu Kapal, sehingga memiliki ikatan persaudaraan yang tinggi, untuk bertahan hidup di perantauan dan rasa persaudaraan itu sama seperti halnya saudara kandung sehingga diturunkan kepada anak cucu.

dalam percaturan dunia, dan derasnya penetrasi budaya asing yang memberi efek negatif terhadap degredasi moral dan adab kejawaan kata "Tunggal Sabahita" kembali dipopulerkan oleh Pujakesuma yang menggambarkan persatuan, guyub rukun sebagai satu saudara, saling ingat mengingatkan dan saling mengulurkan tangan bagi sesama, karena suku jawa sebagai identitas budaya jika baik satu maka baik semua, begitu pula jika buruk satu buruk semua. maka sadarlah kalau kita Tunggal Sabahita!!!

"apa panjenengan delok peradaban liyane luwih megah? iku tandane peradabane jenengan ora diurusi, utawa isa wae karana isin karo awake dewe. melayulah ning di kuwe isa!, Gusti Allah bakal weruh sapa kuwe satenane lan tanggung jawab kuwe semestine, apa kuwe atek melayu saka kewajiban iku?".