Javanese Media Online of Aceh

Kalamiah (Teologi Islam) Al-Salaf, al-Mu’tazilah dan al-Asy’ariyah

Oleh BenerPOST tanggal Minggu, 17 Februari 2013 | 18.49

Al-Qur'an : Kitab Suci Agama Islam

Minimalnya, ada tiga kelompok yang memberikan andil dalam proses penjabaran problematika Kalamiah. Ketiga kelompok itu adalah: Al-Salaf, al-Mu’tazilah dan al-Asy’ariyah. Disini, kita bandingkan secara umum;

a. Golongan al-Salaf
Mereka adalah golongan yang memegang teguh al-Qur’an dan al-Sunnah, mendahulukan riwayat atas kajian (al-dirâyah) dan mendahulukan naql (al-Qur’an dan al-Sunnah) atas akal. Kaum Muslimin pada awal Islam, mayoritas adalah kaum salaf yang menyelesaikan masalah mendasar maupun cabangnya dengan hanya berpedoman dalil yang ada dalam al-Qur’an dan al-Sunnah.

Mereka tidak menakwilkan dan menafsirkan zat, sifat, dan af’al Ketuhanan secara akal berdasarkan naqli, akidah mereka memandang berbagai persoalan berdasarkan pengertian lahir dan digambarkan dalam pola pemahaman manusia awam dan alim, dengan sekuat tenaga memegang prinsip menyucikan dan membedakan Allah dari segala makhluk. Akidah salaf dapat disimpulkan bahwa Allah Esa, Tiada Tuhan selain Dia, Tiada beristri dan tidak beranak. Ia memiliki sifat dua puluh secara mutlak dan memiliki asma’ al-husna, dan jauh dari sifat mustahil. Al-Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluk. Wajhullah (wajah Allah) tidak seperti wajah makhluk, yadd (tangan) Allah tidak seperti tangan makhluk, Ia melihat tidak seperti penglihatan manusia. Mereka mengingkari ta’tîl (menghilangkan sifat-sifat Allah), tajsîm (menyamakan Allah
dengan anggota badan makhluk) dan tasybîh (antropomorfisme atau menyumpakan Allah dengan wujud alam).

b. Golongan al-Mu’tazilah
Kelompok Mu’tazilah dapat disebut sebagai pendiri yang sebenarnya bagi ilmu Kalam (teologi Islam). Karena, hampir setiap pemikiran penting dalam ilmu teologi ditemukan landasannya di
kalangan ini sejak abad ke-2 Hijriah. Mu’tazilah merupakan aliran rasional dalam Islam yang paling banyak punya teori dan tokohtokoh kontraversi. Pengikutnya membahas secara filosofis hal-hal yang tadinya belum diketahui melalui metode filsafat. Ciri khas dan karakter khusus dari kelompok Mu’tazilah bahwa mereka meyakini sepenuhnya kemampuan akal. Celakanya, prinsip ini mereka pergunakan untuk menghukum berbagai hal, menafsirkan segala sifat dan zat Allah.

Dengan prinsip ini mereka berlabuh begitu jauh, berpikir terlalu tajam. Para Mu’tazilî berpendapat bahwa alam punya hukum kokoh yang tunduk kepada akal, mereka juga tidak mengingkari naqli (teks al-Qur’an dan al-Sunnah), tetapi akan mendahulukan hukum akal daripada naqli. Kelompok ini sangat identik dengan Descartes dari kalangan kaum Rasionalis Modern, dan juga kelompok jaringan Islam Liberal.

Kita tidak mengkaji lebih dalam sejarah Mu’tazilah di bab ini. Mu’tazilah memang melewati dua fase dan dua wilayah (ruang). Fase Abbasiyah (100 H /237 M) dan fase Bani Buwaihi (334 H/447 M). Sedangkan wilayah yang menumbuhkan mereka di Basrah, kemudian menyebar sampai ke Baghdad (Irak). Orang Mu’tazili di Basrah bersikap hati-hati dalam menghadapi masalah politik dan kenegaraan, sedangkan kelompok Mu’tazili di Baghdad justru eksis dan terlibat lebih jauh di dalamnya. Oleh karena itu, saat mereka di bawah tekanan golongan Asy’ariyah dan Ahl al-
Sunnah wa al-Jama’ah, maka dengan terpaksa bergandeng tangan dengan Syi’ah dan Rafidah –padahal mereka yang mengisolir diri dari paham Syi’ah tentang Imamah-, serta berlindung kepada Bani Buwaihi. Sekali lagi mereka memanfaatkan kondisi politik, yang kemudian membantu menyebarkan ajaran mereka di Persia, Bahrain dan Yaman.

c. Golongan al-Asy’ariyah
Kaum ini dapat dikatakan aliran sinkretis yang berusaha mengambil sikap tengah-tengah antara dua kutub akan dan naqli, antara kaum Salaf dan Mu’tazilah. Seseorang yang melakukan perpaduan, bisa cenderung ke kanan atau ke kiri, atau tidak menyetujui kedua belah pihak. Aliran Asy’ariyah bertumpu pada al-Qur’an –sebagai kalam Allah bukan makhluk- dan al-Sunnah, dan memegang teguh terhadap hukum, sifat dan zat Allah yang disebut di dalam keduanya. Kaum Asy’ariyah juga tidak menolak akal, karena Allah menganjurkan agar umat Islam melakukan kajian rasional. Pada prinsipnya, golongan ini tidak memberikan kebebasan sepenuhnya kepada akal seperi yang dilakukan oleh kaum Mu’tazilah, sehingga mereka tidak menempatkan akal di atas naql (al-Qur’an dan al-Sunnah), tetapi akal dan naql saling membutuhkan.

Abu al-Hasan ‘Ali bin Ismail al-Asy’ari (260-324 H/873-935 M) dikenal sebagai pendiri aliran ini dan pengarang kitab al- uma’, ia berkiprah bertahun-tahun di Baghdad, Syam (Suriah) dan melaus sampai ke Mesir. Sehingga, beberapa tokoh penting ikut membumikan paham al-Asya’ariyah dan membelanya untuk menentang rasionalitas Mu’tazilah, di antaranya Abu Bakar al-Baqîlanî (403 H/1013), Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf bin Muhammad bin Abdullah bin Hayuwiyah al-Juwaini al-Naisaburi dikenal Imam al-Haramain (419-478 H), ‘Abd al-Qahhar al-Baghdadi (429 H/1037 M) penulis kitab al-Farq bain al-Firaq, Abdul Karim al-Qusyairi (465 H/1072 M), dan yang sangat berpengaruh adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali al-Thusi al-Syâfi’i (450-505 H/ 1058-1111 M) yang menentang kaum Batiniah, Mu’tazilah dan filosof.

Kemudian, di abad ke-6 H terdapat Abu Abdullah Muhammad Ibn Tumart (524 H/1130 M) adalah murid al-Ghazali, yang berjasa menyebarkan al-Asy’ariyah di Andalusia dan Afrika Selatan. Selain itu,terdapat juga Muhammad ibn Ahmad Abu al-Fatah al-Syahrastanî al-Syâfi’i (479-548 H/1086-1153 M) pengarang kitab al-Milal wa al-Nihal, dan Imam Fakr al-Dîn al-Râzi (606 H/1209 M), keduanya sama-sama mempunyai pengaruh yang besari di kalangan teolog Islam abad ke-7 dan seterusnya.

Asy’ari tampil sekitar satu abad setelah Imam Syafi’i (w. 209 H/892 M), atau setengah abad setelah Imam Al-Bukhari (w. 256 H/870 M). Dan hidup beberapa belas tahun sezaman dengan pembukuan Hadist yang terakhir dari tokoh yang enam (Kutub al-Sittah), yaitu Imam Al-Tirmîdhi (w. 279 H/892 M). Hal ini berarti bahwa Asy’ari hidup pada masa pembukuan Hadist yang menjadi bagian mutlaknya telah mendekati penyelesaian. Sehingga ajaran Ash’âriyah menggunakan penalaran ortodoks karena lebih setia kepada sumber-sumber islam sendiri seperti Kitab Allah dan Sunnah Rasul daripada penalaran kaum Mu’tazilah. Namun juga menggunakan argumen-argumen logis meskipun metode ta’wîl hanya menduduki tempat sekunder dalam sistem al-Asy’ariyah.

Selain itu, Paham al-Maturidiah yang dikembangkan oleh Abu Mansûr al-M’âturîdî (333 H/944 M) berkiprah sezaman dengan Asy’ari dalam mengembangkan paham Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah di daerah Samarqand dan di daerah-daerah seberang sungai Oxus (Amu Darya). Pengikut mazhab Hanafiah (Imam Hanafi) membentengi aliran Maturidiyah, sebagaimana pengikut mazhab Syafi’i dan mazhab Maliki yang mendukung paham Asy’ariyah.
|Dari Buku : Aliran Sesat Di Aceh Dulu Dan Sekarang :Halaman 26-30, Oleh : Hermansyah|