Javanese Media Online of Aceh

Eksotisme Kecinaan dalam Budaya Jawa

Oleh BenerPOST tanggal Kamis, 28 Februari 2013 | 02.45

Jawa Itu Bukan Hanya Milik Orang Jawa

Korelasi kebudayaan negeri China dengan Jawa berlangsung setelah kapal Fa Hsien terserang badai dan mendarat di Jawa (414 M). Hubungan dagang yang teratur itu mendorong lahirnya banyak orang China dari perkawinan campur yang menguasai beberapa bahasa. Hubungan dagang itu berada pada lingkungan sosial beranekaragam yang terbuka bagi berbagai kebudayaan.

Kelompok-kelompok China umumnya mengambil peran aktif dalam gerak urbanisasi dan kehidupan ekonomi-sosial. Sebagai orang yang rajin, kreatif dan kuat bekerja, mereka dibutuhkan penguasa Jawa maupun kompeni untuk perdagangan. Monetisasi parsial perekonomian Jawa berjalan terus dengan rangsangan dari orang China, karena mereka memegang monopoli atas produksi picis atau kepeng (uang tunai) sebagai alat pertukaran.

Menurut Pigeaud, melalui orang China, lahir suatu tipe pertanian yang hampir bermesin: pompa berpedal, gilingan tebu, pemeras kelapa, penyosoh beras, dan bajak. Masih banyak pengaruh China dalam budaya Jawa, seperti fengshui dan rumah loteng, keramik, penggunaan dluwang, bakiak kayu. Pengaruh lain terjumpai pada pencak, pengobatan sinse (xiangsheng), dan tukang gigi. Begitu pula judi dadu (po atau lienpo), kartu (si-ki, peh-ki, tjape-dji-ki), sampai makanan (ca, tim, kuah), dan arak (tsieuw), hingga mi, pangsit, dimsum dan bakso, lontong cap gomeh, atau kuaci.

Pada awal abad ke-20, banyak penduduk China semakin "Tionghoa" dan di mata orang Jawa jadi semakin "asing". Pada saat nasionalisme diwujudkan dalam Kamar Dagang Tionghoa (siang hwee), muncul Syarikat Dagang Islam sebagai saluran aspirasi pengusaha pribumi untuk menandingi kekuatan komersial orang China. Kuatnya Pan-Asia mereka didukung oleh prinsip ius sanguinis (setiap yang lahir dari ayah seorang China, dianggap warga negara RRCI), orientasi gaanxiqiye (jaringan bisnis China seberang laut), dan budaya tanah leluhur, mengakibatkan mereka sering dicap subversif. Ini merupakan faktor yang banyak menimbulkan kesalahpahaman, diskriminasi dan sikap anti-China yang potensial di kalangan orang Jawa.

Orang China juga mendorong teknik baru dalam pertanian dengan menggunakan sarana hewan dan bajak. Teknik persemaian dibuat berbaris-baris, yang memungkinkan pembersihan rumput dengan bajak, disamping mengenalkan jenis pari jero.

 Mereka yang kebanyakan orang Hokkian dan Kwong Fu umumnya beristri orang Jawa peranakan. Di samping meresapi kultur konfusius juga memperlihatkan apresiasi terhadap sivilisasi Jawa. Mereka berpola mestizo yang beda dari kelompok singkeh atau totok, dan suka mengadopsi adat istiadat Jawa. Begitu juga berkembang pola batik tradisional dengan motif China, seperti phoenix atau lok can (burung hong) lambang panjang umur dan naga (liong) sebagai simbol hujan dan kemakmuran. Ragam mega-mendhung atau wadhas-china menonjol dalam corak batik Cirebon, sebagaimana motif ci'lin pada batik Lasem. Terhadap batik keraton Solo dan Yogya pun punya pengaruh. Corak-corak lereng dan silang dalam pewarnaan soga yang khas Solo-Yogya dipadukan corak-corak warna (merah, biru, tua, biru muda).

Orang China memang dibutuhkan di istana sebagai orang yang dapat memberikan uang dan ahli dalam perdagangan. Tak jarang China peranakan yang cantik menjadi garwa ampeyan. Bagi orang China, ikatan mereka dengan istana merupakan syarat yang harus ada, bagi kepentingan perdagangan mereka di daerah pedalaman.

Sejak abad ke-18 telah terjadi proses akulturasi dan penetrasi pasar-pasar setempat oleh para imigran Cina, di samping monopoli gerbang tol dan perdagangan candu. Besarnya permintaan akan sewa pajak tetap serta tekanan persaingan dalam perdagangan, mengakibatkan mereka saling berebut posisi kunci sehingga harus mengeluarkan biaya 2 atau 3 kali lipat dari yang sebenarnya untuk menyuap para pejabat. Pengeluaran besar melahirkan eksploitasi sumber-sumber ekonomi di daerah yang dikuasainya, dengan cara yang lebih kejam. Pemberontakan China (1741 - 1742) merupakan suatu krisis, di mana orang China dan orang Jawa menemukan dirinya saling berhadapan satu sama lain dalam peperangan dengan alasan politik.

Orang China menguasai bidang ekonomi, politik, militer Keraton Kartasura runtuh. Ini awal beberapa pemberontakan petani yang sekian lama jadi objek penindasan ekonomi, lebih-lebih tatkala perekonomian Jateng selatan merosot akibat kemarau dan kegagalan panen bertahun-tahun.
(Eko Wahyu Budi Yanto/CN37) |Suara Merdeka|