Javanese Media Online of Aceh

Suku Jawa Adalah Suku Universal

Oleh BenerPOST tanggal Rabu, 09 Januari 2013 | 01.32

Rumah Joglo salah satu gaya arsitektur Jawa
Suku Jawa berbeda dengan suku-suku lain dalam hal pandangan hidup, jika suku lain selalu melabelkan agama tertentu sebagai identitas kesukuannya, atau bukanlah bagian dari suku tertentu jika bukan beragama tertentu, maka suku jawa merupakan suku yang universal identitas sukunya tidak dibangun oleh agama maupun ras tertentu walaupun setiap individu jawa wajib beragama dan dituntun untuk melaksanakan syariat agamanya yang mesti dilaksanakan dengan taat oleh pribadi jawa yang memeluknya sebagai konsekwensi hidup sebagai hamba tuhan.

suku jawa memposisikan diri sebagai suku universal dan sebagian mengatakan jawa bukanlah sebuah suku namun dia adalah Jiwa dari setiap individu baik dia muslim maupun non-muslim sehingga dapat kita lihat pandangan hidupnya yang mengayomi semua agama dan muslim sebagai pemimpinnya karena memang sebagai mayoritas bisa dilihat kesultanan-kesultanan yang dibangun oleh suku jawa yang bercorakkan islam, namun tetap menghargai suku jawa non-muslim yang tidak beragama islam karena agama adalah iman dan keyakinan pilihan jiwa, dan jikalaupun orang jawa mayoritasnya adalah non muslim maka ianyapun juga berkewajban mengayomi hak-hak suku jawa yang beragama lainnya karena memang itu pandangan hidup yang ditanamkan kepada orang-orang jawa hal sesuai dengan firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Mumtahanah (80:8) :

laa yanhaakumu allaahu 'ani alladziina lam yuqaatiluukum fii alddiini walam yukhrijuukum min diyaarikum an tabarruuhum watuqsithuu ilayhim inna allaaha yuhibbu almuqsithiina
Artinya : Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

sebagai suku yang telah melewati malang melintangnya peradaban suatu agama, jatuh bangun silih bergantinya agama yang pernah dilaluinya tentu ikut mewarnai cara pandang dalam kehidupan beragama orang jawa maka terciptalah toleransi beragama hal ini tergambarkan dalam Piwulang Kautamaan (Ajaran Tingkah Laku Utama) agar manusia jawa dapat menghargai keyakinan orang lain :

"Pangéran iku siji, ånå íng ngêndi papan, langgêng, síng nganakaké jagad iki saisiné, dadi sêsêmbahan wóng saalam kabèh, nganggo carané dhéwé – dhéwé" (Pituduh :01)
Artinya "Tuhan itu hanya satu, yang ada dimanapun kita berada (tidak dapat mengelak dari keberadaanya), kekal adanya, yang menciptakan alam semesta beserta isinya, menjadi tempat menyembah manusia seluruh alam semesta, yang menggunakan caranya masing-masing".

seperti yang kita ketahui bahwa suku jawa sekitar 90% menganut muslim dan sisanya sekitar 10.000.000,- menganut Kristen (termasuk Katolik dan Protestan), Kejawen, Hindu, Buddha dan Konghucu, walaupun suku jawa terbagi dalam beberapa agama, suku jawa tetaplah satu karena cara pandang diatas disamping ajaran keutamaan dalam suku jawa juga mengajarkan taat kepada agamanya, melaksanakan syariat agamanya dengan baik hal ini banyak terdapat dalam ajaran-ajaran suku jawa untuk membentuk pribadi ksatria yang mulia dan sangat lengkap diajarkan dalam Serat Centhini sebagai baboning pangawikan Jawi, induk pengetahuan Jawa.

suku jawa bukanlah suku yang terbentuk dari ras atau keturunan belaka karena kata jawa itu sendiri dalam bahasa jawa bermakna akhlak sedangkan Njawa berarti berakhlak atau mengerti, mengetahui, dapat merasakan, berilmu dan memahami, maka tidak heran jika ada orang jawa yang bertingkah laku bertentangan dengan norma-norma yang berlaku baik agama, sosial, hukum dan adat disebut sebagai "Ora Njawa" secara harfiah berarti tidak jawa yang  memiliki maksud mengatakan bahwa orang tersebut tidak berakhlak, tidak mengerti, tidak mengetahui, tidak dapat merasakan, tidak berilmu dan tidak memahami, karena syarat menjadi orang jawa itu sendiri haruslah "Njawa" atau mengerti, mengetahui, dapat merasakan, berilmu dan memahami lebih bermaksud dalam hal akhlak baik hubungan manusia dengan tuhan, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam semesta.

berarti secara umum menjadi suku jawa mestilah "Njawa" atau berakhlak, termasuk sopan santun dalam tingkah laku maupun budi bahasa yang memiliki 3 tingkatan bahasa yaitu Krama Inggil (Bahasa Halus Tinggi), Krama Madya (Bahasa Halus Sedang) dan Ngoko (Bahasa Pasar), dengan menggunakan tingkatan bahasa itu berarti orang tersebut telah memahami bahwa kita dengan orang tua mestilah halus berbahasa dan sopan santun, dan balasannya orang yang lebih muda juga akan bersikap serupa terhadap kita, itulah berarti bahwa orang jawa mengerti dan memahami tentang hal menghargai terhadap orang yang lebih tua.

artinya suku jawa itu adalah orang yang berakhlak, mengerti, mengetahui, dapat merasakan, berilmu dan memahami bagaimana berhubungan dengan tuhannya, bagaimana berhubungan dengan manusia dan bagaimana berhubungan dengan alam semesta. yang teraplikasikan lewat melaksanakan syariat agamanya, berbudi bahasa, sopan santun dalam bertingkah laku dan menjaga alam semesta sebagai rumah kita jadi bukan dari ras atau keturunan belaka. apakah anda Njawa?