Javanese Media Online of Aceh

Mitos : "Naga Keluar Dari Pertapaan Untuk Adu Tanding"

Oleh BenerPOST tanggal Senin, 03 Desember 2012 | 01.59

Naga dalam versi Orang Jawa
Jika "Naga" anda sangka sebagai hewan mitologi China anda tidak 100% benar karena cukup banyak bangsa di dunia juga memiliki mitos hewan berbentuk ular raksasa bertanduk, memiliki kumis, kaki dan sangat seram ini, misalnya saja Bangsa Jawa juga memiliki mitos tentang ular raksasa ini, dalam pewayangan ular raksasa yang dikenal naga ini dikenal sebagai dewa bernama Sanghyang Naga Antaboga atau Anantaboga yang konon sebagai dewa penjaga di dalam perut bumi.

Naga Jawa digambarkan sebagai sesosok mahluk sakti berbentuk ular raksasa yang tidak memiliki kaki meskipun adakala diwujudkan mempunyai kaki . Naga Jawa memakai badhog atau mahkota di atas kepalanya. Terkadang Naga Jawa digambarkan juga memakai perhiasan anting dan kalung emas.

Tidak seperti Naga Cina maupun Naga Eropa, tampilan Naga Jawa sangat unik dan khas karena naga Jawa memakai mahkota layaknya raja. Dibanding dengan Naga cina mempunyai empat kaki serta kumis di atas mulutnya, sedangkan tampilan Naga eropa lebih mirip dengan kadal raksasa berleher panjang yang mempunyai sayap lebar.

Dalam masyarakat Jawa juga dikenal sebuah mitos yang disampaikan turun-temurun lewat cerita rakyat, yaitu tentang adanya naga pertapa yang sedang bertapa untuk menambah kedigdayaan dan kesaktian bertujuan untuk mengambil alih kekuasaan sepasang naga penguasa lautan yang konon tidak terkalahkan, lokasi yang diyakini tempat pertapaan naga adalah jurang (alur atau bentuk kerak bumi seperti parit raksasa) yang pada pangkalnya terdapat mata air dengan aliran air kecil yang tentunya bukan seperti sungai hanya seperti selokan pembuangan air saja besarnya, namun airnya terus mengalir, konon ular pertapa ribuan tahun itu tentunya sudah tertutup dengan tanah sehingga manusia tidak akan bisa melihatnya, pada saatnya akan keluar mengikuti aliran air tadi untuk menuju kelaut dengan membawa segala material yang ada didepannya, pada saat inilah ular naga pertapa itu keluar untuk adu tanding dengan naga penguasa lautan.

Naga dengan kekuatan besar ini konon menurut cerita memiliki mata merah menyala seperti lampu pijar yang melaju dengan kekuatan tinggi, siapa saja yang berhasil melihatnya maka sudah bisa dipastikan tidak akan selamat, naga pertapa ini akan menuju ke lautan lepas untuk mengikuti adu tanding kekuatan dalam perebutan kekuasaan dan singgasana kerajaan laut, konon siapa saja yang menang akan menggantikan posisi sebagai ratu penguasa lautan, pada saat adu tanding maka akan terjadi ombak besar dilautan, yang membuat para nelayan tidak bisa berlayar, dan air laut akan berubah warna sedikit kotor karena adanya perkelahian sengit diantara kedua naga tersebut.

Siapa saja yang menang akan melanjutkan singgasana penguasa laut, yang kalah akan melarikan diri dan bertapa kembali untuk mendapatkan kekuatan yang lebih kuat atau bisa saja mati terbunuh, dan dipercaya naga-naga lain akan melakukan tapa demi merebut kekuasaan ini, dan konon juga jika terjadi perang besar dimana naga-naga pertapa tidak hanya satu yang keluar dari pertapaan alamat itu bencana besar dan gelombang laut akan lebih tinggi dan besar karena efek perebutan kekuasaan itu.

Itulah dongeng tentang naga yang hidup ditengah masyarakat Jawa sebenarnya cukup banyak pelajaran yang dapat dipetik dari dongeng ini yang sampai sekarang masih diyakini oleh orang jawa misalnya seperti dilarang membuat rumah disisi-sisi alur (parit raksasa) yang ada aliran air kecilnya karena rawan terjadi tanah longsor, dilarang melaut jika terjadi longsor dengan ciri seperti dongeng diatas, serta ada makna tersirat bahwa siapa saja yang ingin merebut cita-cita maka harus bertapa (belajar) untuk mencapai cita-cita setelah pandai baru saatnya mengaplikasikannya, dan masih banyak makna yang tersirat pada cerita tersebut, yang penting tetap positif thinking terhadap budaya sendiri, kalau negatif thinking biar dikasi kue bika dikira kue yang dikasi racun, semoga tulisan ini bermanfaat