Javanese Media Online of Aceh

Harimau Jawa Telah Punah Tapi Jiwanya Tetap Hidup Dalam Jiwa Orang Jawa

Oleh BenerPOST tanggal Selasa, 27 November 2012 | 22.51

Harimau Jawa Terkenal Dengan Ukurannya Yang Besar
Membaca judul tulisan ini mungkin anda akan merasa bahwa judul ini bukan sifat Orang Jawa yang “Njawani” karena terlihat emosional, karna orang jawa tidak pernah menampakan emosionalnya dalam tindak tanduk kesehariannya apalagi bersifat ke-aku-an yang kufur justru selalu coba menyembunyikan kemampuannya dengan cara merendah seperti perintah Gusti Allah SWT :

Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi dan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashash: 83)

Tapi tentu akan berbeda jika tinggal dilingkungan yang tidak ada sifat “Njawani” salah satunya sabar dan tawadhuk (tidak sombong) akan menjadi bumerang oleh orang jawa sendiri, misalnya sabar akan sangat dianggap bodoh oleh orang berpaham berbeda yang berpikir pendek padahal sabar itu hanya bagi orang-orang yang berpikir panjang dan hasilnya juga untuk jangka panjang Gusti Allah SWT berfirman :

”...Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (Az Zumar : 10)

Tapi orang sabar kebanyakan akan sengaja dimanfaatkan oleh orang yang tidak bersifat Njawani dan akhirnya hanya menjadikan sabar merupakan sifat pecundang, ini fenomena yang terjadi bukan berarti sifat sabar itu merugikan namun justru adanya orang sabar maka orang-orang yang menghinakan sifat sabar itu masih diperpanjang hidup di dunia ini dan tentunya itu tinggal menghitung waktu sampai mana batas kesabaran itu.

Di sisi lain adalah sifat merendah, tawadhuk biasanya orang jawa menjawab tantangan dengan basa-basi misalnya ditanya kamu bisa buat khaligrafi? Dia akan jawab,, wah saya Cuma lulusan pesantren kampung pak, saya akan coba sebagus mungkin, jawaban ini menggambarkan posisi manusia hanya bisa berusaha sedangkan hasilnya hanya Gusti Allah yang menentukan. Kalo di daerah jauh dari sifat “Njawani” jangan harap mendapatkan pekerjaan itu, mereka tidak akan percaya karna yang mereka butuhkan adalah bisa atau tidak, mereka tidak melihat bagaimana usahanya tapi bagaimana hasilnya, sifat yang sangat praktis yang mendorong dunia instan seperti mie instan yang tinggal seduh.

Tapi tulisan ini bukan bermaksud mau sombong, hanya ingin menggambarkan dibalik kehalusan budi orang jawa sebenarnya jiwanya seperti harimau jawa, perhatikan bahwa harimau tidak akan menampakan kemarahannya kecuali dia sedang di usik jika dalam keadaan santai justru ingin rasanya membelainya tapi jangan coba asal belai bisa panjang urusannya, dan satu lagi tidak akan menampakan cakarnya jika dia tidak sedang marah dan berburu dan itu di aplikasikan oleh orang jawa dari sifat menyembunyikan emosi dan meletakan keris dibelakang punggung, jika sedang dalam keadaan perang maka keris dipindahkan di depan, sifat ini sudah tertanam pada jiwa orang jawa yang Njawani selain ternyata sesuai dengan ajaran agama islam dimana tidak ada tempat untuk kesombongan.

Selain itu membawa keris dibelakang punggung itu merupakan adab berhadapan dengan orang lain dimana orang jawa menginginkan jika orang berhadapan dengannya yang dilihat adalah dirinya bukan apa yang bersama dirinya, karena keris melambangkan status bagi orang jawa yang akan terus diwariskan kepada anak laki-laki pertama dan seterusnya, dan anak laki-laki lain diperkenankan mencari keris lain untuk anak laki-laki pertamanya, ini hampir mirip dengan penggunaan lambang keluarga oleh orang eropa yang menjadi kebanggaan, marwah dan harga diri keluarganya.

Sekarang anda sudah tahu kenapa orang jawa selalu meletakan keris di belakang punggung ? semoga tulisan ini bermanfaat, dan tetap bangga menjadi orang-orang yang sabar dan selalu tawadhu’.